Rabu, 06 April 2011

LATAR BELAKANG BERDIRINYA MUHAMMADIYA

Kata Pengantar

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat dan bimbingan-Nya, sehingga kami dapat menyusun makalah ini.
Adapun makalah ini memberikan sedikit penjelasan tentang Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah. Akhirnya kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, kami mohon berkenan para pembaca untuk memberikan saran / kritik yang membnagun demi perbaikan. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih.



Penyusun











DAFTAR ISI
BAB 1 LATAR BELAKANG BERDIRINYA MUHAMMADIYAH
PENDAHULUAN ……………………………………………… 3
A. Latar Belakang………………………………………………. 3
B. Rumusan Masalah…………………………………………… 4
C. Tujuan……………………………………………………….. 4
BAB 2 PEMBAHASAN……………………………………………….. 5
A. Pengertian Muhammadiyah……………………………….. … 5
B. Gagasan yang Melatarbelakangi berdirinya Muhammadiyah………………………………………….. …. 5
BAB 3 PENUTUP……………………………………………………… 10
A. Kesimpulan …………………………………………………. 10
B. Saran dan Kritik……………………………………………... 10
DAFTAR PUSTAKA………………………………………….. 11









BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG BERDIRINYA MUHAMMADIYAH
A. Latar Belakang
Muhammad Darwis atau lebih dikenal dengan K.H. Ahmad Dahlan merupakan pendiri Muhammadiyah pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H,bertepatan pada tanggal 18 November 1912, di kampung Kauman Yogyakarta.
Pada tahun itu,K.H. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melakukan cita-cita dalam pembaharuan Islam di Indonesia. K.H. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam di Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sejak pertama didirikan, telah ditegaskan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi yang bergerak dibidang politik, namun bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.
Hasil pemikiran K.H. Ahmad Dahlan yang dilakukan secara mendalam dan sungguh-sungguh tersebut, kemudian melahirkan berbagai gerakan pembaharuan yang merupakan operasionalisasi dan pelaksanaan dari hasil pemahaman dan pemikirannya terhadap ajaran Islam. Di Indonesia lahir beberapa organisasi atau gerakan islam, diantaranya adalah Muhammadiyah yang lebih dari 30 tahun sebelum merdeka, dan organisasi lainnya yang bergerak di bidang politik,social dan pendidikan.
Muhammadiayah adalah organisasi yang berdiri bersamaan dengan kebangkitan masyarakat Islam Indonesia pada dekade pertama yang sampai hari ini bertahan dan membesar yang sulit dicari persepadanannya. Jika dilihat dari amal usaha dan gerakan Muhammadiyah di bidang sosial kemasyarakatan, khususnya di bidang pendidikan dan dan kesehatan, maka Muhammadiyah merupakan organisasi sosial keagamaan yang terbesar di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang menyebutkan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi terbesar di Indonesia maka sangat menarik jika kita lebih mendalami untuk mengerti tentang bagaimana sebenarnya latar belakang berdirinya Muhammadiyah dan apa saja yang melatarbelakangi pendiriannya, sehingga sampai saat ini masih bisa tetap terjaga eksistensinya sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang terbesar di Indonesia.
C. Tujuan
Tujuan penyusun makalah ini untuk memenuhi tugas Kemuhammadiyahan Kelompok 1 yang diberikan oleh Dosen pembimbing mata kuliah Kemuhammadiyahan dengan tema “LATAR BELAKANG BERDIRINYA MUHAMMADIYAH”. Disamping itu juga kelompok 1 ingin mengetahui tentang bagaimana muhammadiyah didirikan dan apa yang menjadi faktor yang melatarbelakangi berdirinya muhammadiyah.










BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Muhammadiyah

Muhammadiyah sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia,karena Muhammadiyah aktif dalam pergerakan masyarakat baik itu dalam bidang pendidikan maupun dalam bidang kesehatan. Adapun arti dari Nama Muhammadiyah dapat ditinjau dari dua segi yaitu berdasarkan arti etimologis ( bahasa ) dan arti terminologis ( istilah ).

1. Arti Etimologis ( bahasa )

Muhammadiyah berasal dari kata “Muhammad” yaitu seorang Nabi Atau Rasul yang menjadi tauladan bagi umat manusia pada akhir zaman,atau merupakan Nabi dan Rasul terakhir. Sedangkan “iyah” berarti menjeniskan. Jadi Muhammadiyah berarti pengikut ( umat ) Muhammad. Siapapun yang menyakini bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah yang terakhir, maka semua orang yang beragama Islam merupakan orang Muhammadiyah tanpa dilihat dari perbedaan cara pandang organisasi ataupun yang lainnya.

2. Arti Terminologis ( istilah )

Muhammadiyah merupakan sebuah gerakan Islam , Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar , berdasarkan asas Islam yang bersumber dari Al Qur'an dan As Sunah yang didirikan oleh Muhammad Darwis atau lebih dikenal dengan nama K.H. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H, bertepatan pada tanggal 18 November 1912 M di Kampung Kauman Yogyakarta.






B. Gagasan Yang Melatarbelakangi Berdirinya Muhammadiyah

Umat Islam sebelum terbentuknya Muhammadiyah masih percaya pada hal- hal yang mistik, seperti pemberian sesajen pada benda-benda atau tempat yang dianggap keramat. Bahkan sampai sekarang hal- hal seperti itu masih ada, seperti yang kita lihat didaerah Lombok, ada seorang yang menganggap bahwa foto Tuan Guru dapat membantunya terlepas dari nasib buruk. Dan banyak sekali ajaran-ajaran yang dicampur dengan perbuatan-perbuatan yang melanggar aturan agama, seperti yang kita lihat di dalam Film Sang Pencerah. Sebuah keluarga yang memberikan sesajen ke pohon besar, sesajen tersebut diambil oleh seseorang sehingga keluarga tersebut merasa senang karena beranggapan bahwa sesajennya telah diterima oleh Allah swt.

Dari cerita diatas dapat dikatakan bahwa agama yang disiarkan pada saat tersebut masih disisipkan sebuah perbuatan yang secara langsung dilarang dalam Kitabullah dan Sunnah Rasullullah.

K.H. Ahmad Dahlan sebelum membentuk perkumpulan Muhammadiyah terlebih dahulu pergi memdalami ilmu agama ke Kota Suci Makkah sekaligus melaksanakan ibadah haji yang kedua kali pada tahun1903. Setelah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah, Kyai Dahlan mulai menyemaikan benih pembaruan di Tanah Air. Gagasan pembaruan itu diperoleh Kyai Dahlan setelah berguru kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari Maskumambang, juga setelah membaca pemikiran-pemikiran para pembaru Islam seperti Ibnu Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Dengan modal kecerdasan dirinya serta interaksi selama bermukim di kota suci Mekkah dan bacaan atas karya- karya para pembaru pemikiran Islam itu telah menanamkan benih ide-ide pembaruan dalam diri K.H. Ahmad Dahlan. Jadi sekembalinya dari Mekkah, K.H. Ahmad Dahlan justru membawa ide dan gerakan pembaruan.


Benih kelahiran Muhammadiyah sebagai organisasi untuk mengaktualisasikan gagasan-gagasannya merupakan hasil interaksi K.H. Ahmad Dahlan dengan kawan-kawan dari Boedi Oetomo yang tertarik dengan masalah agama yang diajarkan K.H. Ahmad Dahlan, yakni R.Budihardjo dan R.Sosrosugondo. Gagasan itu juga merupakan saran dari salah seorang siswa K.H. Ahmad Dahlan di Kweekscholl Jetis di mana Kyai mengajar agama pada sekolah tersebut secara ekstrakulikuler, yang sering datang ke rumah Kyai dan menyarankan agar kegiatan pendidikan yang dirintis K.H. Ahmad Dahlan tidak diurus oleh Kyai sendiri tetapi oleh suatu organisasi agar terdapat kesinambungan setelah Kyai wafat. Dalam catatan Adaby Darban, ahli sejarah dari UGM kelahiran Kauman, nama ”Muhammadiyah” pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat K.H. Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui shalat istikharah (Darban, 2000: 34). Artinya pilihan untuk mendirikan Muhammadiyah memiliki dimensi spiritualitas yang tinggi sebagaimana tradisi kyai atau dunia pesantren.

Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah tersebut selain untuk mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kyai Dahlan, menurut Adaby Darban (2000: 13) secara praktis-organisatoris untuk mewadahi dan memayungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, yang didirikannya pada 1 Desember 1911. Sekolah tersebut merupakan rintisan lanjutan dari ”sekolah” ( kegiatan K.H. Ahmad Dahlan dalam menjelaskan ajaran Islam ) yang dikembangkan K.H. Ahmad Dahlan secara informal dalam memberikan pelajaran yang mengandung ilmu agama Islam dan pengetahuan umum di beranda rumahnya. Dalam tulisan Djarnawi Hadikusuma yang didirikan pada tahun 1911 di kampung Kauman Yogyakarta tersebut, merupakan ”Sekolah Muhammadiyah”, yakni sebuah sekolah agama yang tidak diselenggarakan di surau seperti pada umumnya kegiatan umat Islam waktu itu, tetapi bertempat di dalam sebuah gedung milik ayah K.H. Ahmad Dahlan, dengan menggunakan meja dan papan tulis, yang mengajarkan agama dengan dengan cara baru, juga diajarkan ilmu-ilmu umum.

Maka pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330 H di Yogyakarta akhirnya didirikanlah sebuah organisasi yang bernama ”MUHAMMADIYAH”.

Organisasi baru ini diajukan pengesahannya pada tanggal 20 Desember 1912 dengan mengirim ”Statuten Muhammadiyah” ( Anggaran Dasar Muhammadiyah yang pertama, tahun 1912 ), yang kemudian baru disahkan oleh Gubernur Jenderal Belanda pada 22 Agustus 1914. Dalam ”Statuten Muhammadiyah” yang pertama itu, tanggal resmi yang diajukan ialah tanggal Miladiyah yaitu 18 November 1912, tidak mencantumkan tanggal Hijriyah. Dalam artikel 1 dinyatakan, ”Perhimpunan itu ditentukan buat 29 tahun lamanya, mulai 18 November 1912. Namanya ”Muhammadiyah” dan tempatnya di Yogyakarta”. Sedangkan maksudnya ialah “menyebarkan pengajaran agama Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wassalam kepada penduduk nusantara di dalam residensi Yogyakarta, dan memajukan hal agama kepada anggota-anggotanya.”

Kelahiran Muhammadiyah sebagaimana digambarkan itu melekat dengan sikap, pemikiran, dan langkah K.H. Ahmad Dahlan sebagai pendirinya, yang mampu memadukan paham Islam yang ingin kembali pada Al-Quran dan Sunnah Nabi dengan orientasi tajdid yang membuka pintu ijtihad untuk kemajuan, sehingga memberi karakter yang khas dari kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah di kemudian hari. K.H. Ahmad Dahlan, sebagaimana para pembaru Islam lainnya, tetapi dengan ciri- ciri yang khas, memiliki cita- cita membebaskan umat Islam dari keterbelakangan dan membangun kehidupan yang berkemajuan melalui tajdid ( pembaruan ) yang meliputi aspek-aspek tauhid ( ‘aqidah ), ibadah, mu’amalah, dan pemahaman terhadap ajaran Islam dan kehidupan umat Islam, dengan mengembalikan kepada sumbernya yang asli yakni Al-Quran dan Sunnah Nabi yang Shakhih, dengan membuka ijtihad.

Pembaruan Islam yang cukup mendasar dari Kyai Dahlan dapat dirujuk pada pemahaman dan pengamalan Surat Al-Ma’un. Gagasan dan pelajaran tentang Surat Al-Maun merupakan contoh lain yang paling monumental dari pembaruan yang berorientasi pada amal sosial-kesejahteraan, yang kemudian melahirkan lembaga Penolong Kesengsaraan Umum (PKU). karena Islam tidak sekadar menjadi seperangkat ajaran ritual-ibadah dan ”hablu min Allah” ( hubungan dengan Allah SWT ) semata, tetapi justru peduli dan terlibat dalam memecahkan masalah-masalah konkret yang dihadapi manusia. Inilah ”teologi amal” yang khas dari K.H. Ahamad Dahlan dan awal kehadiran Muhammadiyah, sebagai bentuk dari gagasan dan amal pembaruan lainnya di negeri ini.

Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh K.H. Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan pertemuan anggota ( sekali dalam setahun ), yang saat itu dipakai istilah AIgemeene Vergadering ( persidangan umum ).










BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan

Muhammad Darwis atau lebih dikenal dengan K.H. Ahmad Dahlan menuntut ilmu di kota suci Makkah, dan hasil dari pendidikannya itu kemudian beliau membentuk sebuah wadah perubahan untuk kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah Rasullullah sesuai dengan arti Muhammadiyah yaitu pengikut Nabi Muhammad SAW. Dari terbentuknya Muhammadiyah di kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H yang bertepatan pada 18 November 1912 M dan tersebarluas hampir seluruh Indonesia sehingga menjadi organisasi besar sampai dengan sekarang tidak lepas dari buah pikiran K.H. Ahmad Dahlan.

2. Saran dan Kritik

Dalam penyusunan makalah yang berjudul “Latar belakang berdirinya Muhammadiyah “, kami dari kelompok 1 menyadari bahwa masih banyak kesalahan sehingga belum sempurnanya makalah kami. Maka kami harap kritik dan saran yang membangun dari Dosen pembimbing dan saudara-saudari khususnya kelas A semester IV Program studi Bahasa Inggris.












DAFTAR PUSTAKA
1.Nafi’ah, Siti.2011. “Ide Dasar/Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah”.
http://veeah.blogspot.com/2010/12/ide-dasarlatar-belakang-berdirinya.html
2. ………….2011.” Al Islam dan KeMuhammadiyahan”. http://regenerasi.wordpress.com/?p=9
3 ………..2009.” Sejarah Berdirinya Muhammadiyah“. http://www.suara-muhammadiyah.or.id
4.Cepot, Kopral.2009.”Sejarah Muhammadiyah”. http://serbasejarah.wordpress/2009/05/31/sejarah -muhammadiyah/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar